Dejavu 2.3.12 dari Kiriman Kotak Hati 23.3.2009

Saat ini kepercayaan terhadap kata2mu sudah mulai pudar…
saat keegoan sudah mulai bertambah antara kita berdua…
saat rasa sayang sudah mulai menghilang dari dalam hati…
inikah akhir dari semuanya?

secepat itukah segalanya berakhir?
secepat itukah aku harus melupakanmu?
hanya sebatas inikah rasa sayangku padamu?
apakah itu yang dikatakan sayang?

Dejavu…
terngiang2 ungkapan doaku
tatkala pulang manaiki kancil putihku
dari taman permainan Taman Tasik menunggu
menunggu kepulangan abang2mu
tak mungkin kulupakan ungkapan doaku
kehadapanNya Rabbul Jalil untukmu

Ya Allah janganlah kau tarik rasa
kasih sayang antara kami ini sampai bila pun kerana
aku amat menyayanginya
andaikata
ia berubah menjadi remaja dewasa yang gagah perkasa
Kau kekalkanlah antara kami keindahan rasa Ya Rabb andai hadirnya mampu mengekalkan kasihku terhadapMu
Kau kekalkanlah kasih-rindu-dendam antara kami sampai bilapun…

Pelangi yang pergi tetap muncul kembali…
hanya buat kamu, dia dan mereka…
haruskah kami melepaskan segalanya untukmu?
merekalah teman, saudara, sahabat jua taulanku selama ini…
haruskah semuanya kulepaskan?
haruskah aku mengubah diri untukmu?
kalau segalanya seperti itu…
lalu, apakah ertinya menjadi diri sendiri?
haruskah aku memakai topeng untuk membahagiakan kamu?
kalau begitu, di manakah letak kebahagiaan itu?
yang ada hanyalah kebahagiaan semu…
haruskah ini semua dilanjutkan?
haruskah sandiwara ini dilanjutkan?
hari ini ragaku terasa hampa
seolah jiwaku sedang terbang entah kemana
mengharapkan kau kembali menghuni pondok usang ini
menemani hari-hari terakhirku…
namun tidak ada kabarnya..

Setengah hariku kuhabiskan di pembaringan
butir butir air telah membasahi pipiku
namun tidak ada kabar berita darimu
kuterdiam dalam kamar yang gelap
mengharap lagi agar Tuhan meruntun jiwaku sejenak
memberi ilham untuk membantu memperlihatkan jalan
buat aku menyelesaikan masalahku…
otakku terasa kosong tak mampu lagi aku berfikir
kumenunggu dan terus menunggu panggilan atau sms darimu…
tetapi hasilnya nihil…
apa mungkin cinta sebegini sudah tiada?
apakah itu cinta?
apakah itu kebahagiaan?
layakkah aku memilikinya?
mungkin sudah tidak layak aku memperoleh darimu…
kerana hatimu telah tersimpan rapi…

aku ingin sekali
menghirup aroma bersalut kegirangan dari wajahmu
namun kau membiarkan aku sendiri..
aku rela kau meninggalkanku…
hanya jika kamu pergi untuk menemui…
Rabbulalamin, Tuhanmu dan Tuhanku
kerana aku yang aneh ini…
tidak sanggup lagi
memakai topeng menghadapi mereka serta kamu…
saat ini aku…
benar-benar tertekan…
menangis dan terus menangis…
seperti aku tidak pernah membuatmu tertawa…
hanya diam… diam… dan diam…
aku tidak mampu membuatmu tertawa…
saat ini aku ingin sekali terus berada di dalam gelap malam…
malam sepi dan kedamaian…
kerana kini seorang demi seorang dari kamu…
membina falsafah berbeda
walau dengan matlamat yang satu…

Aku masih ingat pesan seorang dari kamu…
Allah kan ada …
cukuplah Allah bagiku …
apapun tindakanmu…
Dia tetap jua kekal sebagai cinta hakiki
yang sentiasa hadir disisi
walaupun malu untuk kunyatakan kasih padaNya
Dia tetap sentiasa menemaniku sampai bilapun…
Dia setia menanti hingga akhir hayatku dikandung badan…
Dia tidak akan mengatakan kepadaku
bahawa orang berilmu tidak layak merasakan apa yang kurasakan…

Dia juga tidak akan merendahkan perasaanku terhadap diriNya…
Dia juga tidak akan mencontengkan wajahku dengan arang-arang yang dikutip ditepi jalan…
sembilan purnama aku berkabung…
tak ingin membalasi kata-kata mereka dan kamu…
tak ingin rasanya kembali menyintai mereka dan kamu…
tetapi hatiku ini terlalu lembut…
aku harus, setiap saat, tidak memperdulikan penzahiran manusia sebangsa mereka dan kamu…
andai hatiku ini tidak berperasaan pasti mudah untuk kuterima kehadiran mereka dan kamu
semoga kau menghormati permintaan yang belum mampu kuzahirkan padamu ini
agar tidak lagi mengungkapkan kata apapun yang mempersoalkan tentang hati…
dan tatkala tulang belulangku nanti menyembah kebumi ku tak ingin kamu berada di sini…
hanya…
aku yang hina lagi dhaif ini…
tetap mengharapkan jua al-fatihah darimu…
sepertimana kau mengharapkan doa dariku kepadaNya buat dirimu
namun cukup itu kita laksanakan dari kejauhan…
kerana selamanya aku tak sanggup melihat wajahmu…
kiranya masih belum ada kata untuk akur akan permintaanku,
aku hanya ingin kamu bahagia dunia dan akhirat
melalui jalan lurus yang lazim dilalui makhluk bergelar manusia

apapun salahmu
pasti aku telah lama menelannya
kerana hingga lelah pun aku cuba melupakanmu…
satu saat kau pasti kembali dengan kata-kata manis
kerana dengan menyintai dirimu tanpa disisiku,
sepinya waktu yang berlalu,
bagaikan ombak yang sentiasa bergelora
antara langit dan bumi, hidup dan mati.

Kumohon agar Rabbul Izzati pemilik hatiku ini…
sudi kiranya melapangkan hatiku dengan limpahan keimanan…
agar aku terus menerus melafazkan cinta suci ini
hanya buat Dia pemilik jiwa dan ragaku.

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.